Kekerasan seksual terhadap anak menunjukkan peningkatan, dengan tingkat kerentanan yang lebih tinggi pada anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusi akibat keterbatasan komunikasi, kognitif, dan ketergantungan pada orang dewasa. Kondisi ini menuntut guru PAUD selain berperan sebagai pendidik juga berperan sebagai pelindung anak melalui kompetensi pedagogik yang memadai. Penelitian ini bertujuan menganalisis kompetensi pedagogik guru PAUD dalam pencegahan kekerasan seksual terhadap anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusi, dengan fokus pada penguasaan karakteristik anak, perencanaan, pelaksanaan pembelajaran yang dialogis, serta evaluasi hasil belajar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus yang dilaksanakan di TK Anna Husada Bangkalan, melibatkan 10 guru PAUD yang mengajar anak berkebutuhan khusus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman karakteristik anak merupakan aspek kompetensi pedagogik yang paling dominan dan berperan penting dalam pencegahan kekerasan seksual, didukung oleh perencanaan pembelajaran yang terintegrasi serta pelaksanaan pembelajaran dialogis dan edukatif. Akan tetapi, pemanfaatan teknologi pembelajaran masih belum optimal. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan penguatan kompetensi pedagogik guru PAUD inklusi serta peningkatan pemanfaatan media pembelajaran sebagai upaya preventif perlindungan anak.
Azulva et al. (Mon,) studied this question.